PEMANGKASAN PADA TANAMAN TEH

Pekerjaan pemangkasan dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi bidang petik sehingga memudahkan dalam pekerjaan pemetikan dan mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Tujuan dari pekerjaan pemangkasan adalah: (1) Memelihara bidang petik tetap rendah untuk memudahkan pemetikan (2) Mendorong pertumbuhan tanaman teh agar tetap pada fase vegetatif. (3) Membentuk bidang petik (frame) seluas mungkin. (4) Merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. (5) Meringankan biaya pengendalian gulma. (6) Membuang cabang-cabang yang tidak produktif. (7) Mengatur fluktuasi produksi harian pada masa flush dan masa minus (kemarau). A. Prinsip-Prinsip Pangkasan (1) Batang/cabang/ranting yang telah dipotong tidak boleh pecah atau rusak. (2) Luka pangkas pada batang/cabang/ranting harus rata membentuk sudut 45o menghadap ke dalam perdu.

Sistem pangkasan adalah urutan ketinggian pangkasan yang diterapkan dalam satu siklus pangkas dibandingkan dengan siklus pangkas sebelumnya. Ada dua sistem pangkasan, yaitu: a. Sistem I : Sistem pangkasan yang selalu naik – sistem ini setiap kali melakukan pemangkasan selalu menaikkan bidang pangkasan (3-5 cm) lebih tinggi dari bidang pangkasan sebelumnya sampai batas maksimal pada ketinggian 65-70 cm, kemudian turun kembali pada ketinggian 50-55 cm. b. Sistem II : Sistem pangkasan tetap – sistem ini setiap kali melakukan pemangkasan berada pada ketinggian yang relatif tetap sekitar 60-65 cm berulang-ulang setiap siklus pangkas. Dengan pertimbangan kontinuitas produksi dan harapan produktivitas yang lebih baik, sistem pangkasan yang banyak diterapkan di perkebunan besar adalah Sistem I. Dengan sistem ini, cabang/ranting yang tertinggal

Daur pangkas yaitu jangka waktu antara pemangkasan terdahulu dengan pemangkasan berikutnya, yang dinyatakan dalam tahun atau bulan. Lamanya daur pangkas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : (1) Ketinggian letak kebun dari permukaan laut; makin tinggi letak kebun dari permukaan laut, makin lambat kecepatan pertumbuhan tanaman teh dan sebaliknya. (2) Sistem petik; petikan keras akan menyebabkan naiknya bidang petik lebih lambat sehingga daur pangkasnya panjang, sedangkan petikan ringan akan menyebabkan naiknya bidang petik lebih cepat sehingga daur pangka

Untuk menghindari adanya dampak negatif (kekeringan, pertumbuhan lambat atau kematian) selama masa tanaman tidak berfotosintesa, kondisi tanaman yang akan dipangkas harus dalam keadaan sehat. Pengecekan kesehatan tanaman dilakukan satu bulan sebelum pemangkasan dengan cara test kadar pati atau tes kadar air. F. Waktu Penyembuhan dari Pemangkasan Secara umum setelah dipangkas + 30 hari mulai terjadi bintil-bintil calon tunas dan setelah 70 hari s/d 100 hari pertumbuhan pucuk sudah siap untuk dilakukan tipping/jendangan. Tetapi periode waktu tersebut berlangsung tergantung ketinggian pangkasan, jenis klon, waktu pemangkasan, ketinggian tempat dari permukaan laut , umur tanaman dan kondisi/kesehatan tanaman.

Cara pemangkasan dan tingkat kemahiran pemangkas sangat menentukan keberhasilan suatu pemangkasan selain faktor lainnya. Sebelum pangkasan dimulai, terlebih dahulu harus dibuat contoh pangkasan (indung pangkasan) yang diawasi dengan ketat. Secara garis besarnya urutan pelaksanaan cara pemangkasan adalah sebagai berikut: Pangkasan dengan Manual (1) Memotong cabang/ranting pada ketinggian yang dikehendaki. (2) Luka pangkas pada batang/cabang/ranting diupayakan rata membentuk sudut 45° menghadap ke dalam perdu. (3) Batang/cabang/ranting yang telah dipotong tidak boleh pecah atau rusak, oleh karena itu gaet atau gergaji harus tajam. (4) Memotong cabang/ranting yang besarnya lebih kecil dari ibu jari (< 2 cm) menggunakan gaet pangkas, sedangkan yang lebih besar dari ibu jari (> 2 cm) mempergunakan gergaji pangkas. (5) Membuang cabang/ranting kecil yang berukuran diameter kurang dari 1 cm (ukuran pensil). (6) Bidang pangkasan harus sejajar dengan permukaan tanah. (7) Untuk membentuk luka pangkas menghadap kedalam perdu, pemangkasan dilakukan dari kedua sisi perdu sesuai dengan barisan tanaman. Pangkasan dengan mesin Budidaya dan Pasca Panen TEH 35 Pangkasan dengan mesin dilaksanakan hanya dalam kondisi khusus, misalnya karena alasan kekurangan tenaga kerja, cara pangkasan sebagai berikut : (1) Memotong cabang (I) sedalam 15-25 cm dari bidang petik. (2) Memotong cabang (II) sedalam > 25 cm sampai pada ketinggian yang diinginkan. (3) Arah pemangkasan dilakukan sejajar dengan pohon yang dipangkas, dari arah kanan ke kiri sesuai dengan arah putaran mesin. (4) Untuk mengefektifkan jam kerja mesin, setiap satu jam kerja mesin diistirahatkan selama satu menit. (5) Untuk membersihkan cabang/ranting kecil dilakukan secara manual dengan gaet. H. Jenis Pangkasan Ada delapan jenis pangkasan bentuk pada tanaman teh sebagai berikut : (1) Pangkasan pertama disebut pangkasan indung 10 – 20 cm dari permukaan tanah. (2) Pangkasan bentuk, yaitu pangkasan setinggi 30 – 40 cm dari permukaan tanah pada umur 1,5 – 2,5 tahun. (3) Pangkasan kepris, yaitu pangkasan rata seperti meja tanpa melakukan pembuangan ranting dilakukan pada tinggi 60 – 70 cm dari permukaan tanah.

Penulis: Nanik Anggoro P, SP, M.Si / Penyuluh Pertanian BBP2TP

Email : nanik.anggoro@gmail.com

Sumber: Budidaya dan Pascapanen Tanaman Teh, Badan Litbang Pertanian, 2010

Pengendalian penyakit Ayam KUB

Penyakit-penyakit yang sering menyerang ayam KUB adalah ND, gumboro, fowl fox, snot, CRD, AI dan lumpuh (Suryana & Yasin 2014). Penyakit ND di samping sering terjadi pada ayam KUB, juga umumnya menjangkit pada ayam kampung dengan tingkat morbiditas dan mortalitas antara 80-100% (Zainuddin & Wibawan 2007). Lebih lanjut dikemukakan ada dua cara mengatasi penyakit pada ayam kampung, yaitu dengan program pengendalian dan pembasmian penyakit. Program pengendalian antara lain: (1) Menjauhkan ternak ayam dari kemungkinan tertular penyakit yang berbahaya; (2) Meningkatkan daya tahan tubuh ayam dengan vaksinasi, pengelolaan dan pengawasan yang baik; dan (3) Melakukan pemeriksaan untuk diagnosis sedini mungkin secara cepat dan tepat. Program pembasmian penyakit dapat dilakukan melalui: (1) Test and slaughter, yaitu apabila ternak dicurigai positif menderita penyakit pullorum, CRD atau lainnya harus dibunuh; (2) Test and treatment, bila diketahui ada penyakit dilakukan pengobatan; dan (3) Stamping out, yaitu bila terjadi kasus penyakit menular dan menyerang seluruh ayam di peternakan, maka ayam, kandang dan peralatan harus dimusnahkan (Suryana, 2017).

Program pencegahan penyakit pada ayam KUB yang dilaksanakan  dengan pemberian vaksin ND pada DOC umur 3 hari. Pemberian vitamin ayam setiap pagi hari dengan dosis 1 cc/ekor melalui air minum. Manfaat pemberian vitamin ini di samping dapat mencegah ayam KUB dari serangan penyakit ND dan AI, juga dapat meningkatkan nafsu makan dan menekan biaya obat komersial.

Mengapa harus dilakukan Vaksinsi dalam melakukan pencegahan :

  • Merupakan prosedur untuk memasukkan bahan biologis (kuman penyebab penyakit) yang sudah dimatikan atau dilemahkan untuk membentuk kekebalan antibodi pada tubuh ayam.
  • Vaksinasi adalah upaya pencegahan penyakit bukan pengobatan penyakit, sehingga vaksinasi tidak dilakukan dalam rangka mengobati penyakit.
  • Vaksinasi tidak menjamin ayam tidak sakit, tetapi lebih ke upaya mengurangi kejadian dan kerugian yang ditimbulkan oleh suatu penyakit.

Penyusun : Sad Hutomo Pribadi

Sumber : Artikel Yanuar Achadri, Dkk. BPTP NTT

Sumber gambar :Balitnak

PENYAKIT PASCAPANEN UBIKAYU

Umbi sebagai organ hidup tanaman tetap melakukan metabolisme dan respirasi setelah dipanen. Berbeda dengan ubi jalar atau talas, dimana ubi juga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan, umbi ubi kayu hanya berfungsi sebagai penyimpan energi (hasil fotosintesa). Umbi ubi kayu merupakan bahan yang tidak tahan lama disimpan dan mudah rusak (perishable). Secara umum umbi tidak dapat disimpan lebih dari 3 x 24 jam setelah dipanen karena umbi telah menjadi poyoh, jaringan pengangkutan berwarna biru yang dikenal dengan vascular streaking, yang selanjutnya diikuti oleh perubahan warna jaringan yang menyimpan pati sehingga umbi tidak dapat diterima oleh konsumen.

Adanya sejumlah jenis bakteri dan jamur yang berhasil diisolasi dari ubi yang disimpan dengan berbagai kondisi menunjukkan bahwa kerusakan ubi ubi kayu adalah hal yang kompleks, melibatkan lebih dari satu mikroorganisme. Menurut Majumder (1955 cit. FAO 1985) terdapat dua tipe busuk yang berbeda yaitu busuk kering yang terjadi pada keadaan aerob dan disebabkan oleh jamur Rhizopus sp. dan busuk basah yang terjadi pada keadaan anaerob, disebabkan oleh Bacillus sp.

Kerusakan dan penurunan  kualitas umbi setelah dipanen dan disimpan dalam penyimpanan umumnya berasosiasi dengan infeksi jamur dan bakteri. Adanya kontaminasi mikroorganisme ini ditandai dengan adanya perubahan warna, penurunan  kualitas dan nilai jual, dan adanya toksin (mycotoxin) yang dihasilkan mikroorganisme tersebut. Terlebih kondisi di daerah tropika (termasuk Indonesia) yang hangat dan lembab merupakan kondisi yang cocok untuk perkembangan jamur sehingga dalam waktu singkat miselia jamur dapat menutupi umbi yang disimpan tersebut.

Selain kondisi ruang penyimpanan  yang kurang memadai, salah satu penyebab umbi ubi kayu menjadi cepat rusak oleh infeksi jamur/bakteri adalah kadar air umbi yang tinggi saat dipanen (lebih kurang 60%). Oleh karena itu di beberapa daerah terutama yang menggunakan ubi kayu sebagai makanan pokoknya, petani memproses menjadi beberapa produk dan mengeringkannya dengan sinar matahari sehingga kadar airnya lebih rendah antara lain dalam bentuk gaplek, sawut, dan chip.

Beberapa jamur yang terlibat dengan kerusakan umbi/chip ubi kayu terdapat yaitu

  • Jenis jamur/bakteri: Rhizopus, Monilia, Botryodiplodia, Fusarium, Aspergillus, dan Penicillium, produk yang dirusak gaplek di Negara Indonesia, Referensi Pusposendjoyo198
  • Jenis jamur/bakteri: Aspergillus clavatus, A. flavus, fumigatus, niger, A. ochraceous, A. versicolor produk yang dirusak chip, di Negara Kamerun, Referensi Essono et al 2007.
  • Jenis jamur/bakteri: Rhizopus stolonifer, Penicillium expansum, Fusarium moniliforme, Aspergillus niger, produk yang dirusak umbi, di Negara Nigeria Referensi Okoi et al. 2014.
  • Jenis jamur/bakteri: Alternaria sp., Aspergillus niger, A. fumigatus, Cylindrocarpon lichenicola, Fusarium oxysporum, Geotrichum candidum, Mucor biemalis, Rhizopus oryzae dan Scopulariopsis candida, produk yang dirusak umbi , di Negara Nigeria, Referensi Ibrahim dan Shehu 2014.
  • Jenis jamur/bakteri: A. flavus, Fusarium verticillioides, Penicillium, chrysogenum, Phoma sorghina, Rhizopus oryzae, Mucor piriformis, produk yang dirusak Chip, di Negara Chip, Referensi Gnonlonfin et a2008.

Kontaminasi dan infeksi umbi oleh jamur atau bakteri akan mengakibatkan umbi menjadi rusak dan busuk, kandungan unsur dan nilai gizinya rendah sehingga tidak dapat diterima konsumen. Selain merusak fisik dan nilai gizi, beberapa jamur juga dapat menghasilkan toksin yang berbahaya bagi manusia ataupun hewan yang mengkonsumsi umbi atau produk umbi yang terkontaminasi tersebut (Essono et al. 2007), meskipun Gnonlonfin et al. (2008) berdasar hasil analisis menggunakan HPLC pada chip ubi kayu yang terinfeksi jamur A. flavus, Fusarium verticillioides, Penicillium chrysogenum, Phoma sorghina, Rhizopus oryzae, dan Mucor piriformis tidak menemukan kontaminasi aflatoksin dan fumonisin B1.

Adanya luka pada umbi saat dipanen dan kotoran/tanah  yang melekat pada umbi akan memudahkan terjadi kontaminasi dan infeksi mikroorganisme pada umbi yang disimpan. Oleh karena itu menyimpan umbi yang utuh dan bersih merupakan cara untuk memperpanjang umur penyimpanan.

Suhu ruang/tempat penyimpanan. Suhu yang ideal untuk menyimpan umbi ubi kayu segar adalah 3 oC atau menyimpan dalam refrigerator. Namun tentunya hal ini kurang pas bagi petani ubi kayu yang lemah ekonominya. Lagi pula cara ini hanya dapat menyimpan umbi dalam jumlah yang kecil. Cara lain dengan meyimpan produk ubi kayu dalam keadaan beku (frozen). Cara ini telah digunakan oleh para ekportir/industri  pengolahan ubi kayu. Pada kondisi suhu dingin dan beku, infeksi oleh mikroorganisme tidak terjadi.

Lama penyimpanan. Makin lama umbi disimpan berarti makin lama pula terjadi interaksi antara patogen-umbi. Pada kondisi demikian apabila kondisi ruang penyimpanan sesuai untuk perkembangan penyakit, maka akan terjadi infeksi dan intensitas serangan penyakit menjadi lebih tinggi. .

Perbaikan cara penyimpanan. Di Nigeria, penyimpanan umbi ubi kayu dengan serbuk gergaji lembab dalam kotak yang tertutup  dapat menghindarkan  dari infeksi jamur atau bakteri dan dapat disimpan dengan baik hingga tiga minggu. Serbuk gergaji lembab berfungsi sebagai tanah sehingga tumbuh akar sekunder. Gas dan panas yang terjadi pada kotak tertutup  berefek sebagai curing pada umbi yang disimpan (Udoudoh 2011).

Fungisida. Beberapa jamur diketahui berada pada permukaan umbi ubi kayu yang baru dipanen. Oleh karena itu sterilisasi permukaan dengan menggunakan kalsium hipoklorida atau Klorok dan menyimpan pada kantong polyethilen dapat memperpanjang umur simpan umbi (Ikediugwu dan Ejale 1980).

Fungisida nabati. Beberapa ekstrak tanaman  diketahui dapat menekan pertumbuhan  jamur penyebab kerusakan ubi dalam simpanan. Amadioha dan Markson (2007) melaporkan bahwa ekstrak etanol dan air dari biji Piper nigrum memberikan hasil terbaik dalam menekan jamur Rhizopus oryzae, diikuti ekstrak biji Aframomum meleguata, ekstrak daun Ageratum conyzoides dan ekstrak daun P. nigrum. Ekstrak tersebut lebih efektif menghambat perkembangan busuk pada umbi yang tidak terluka dibanding umbi luka terutama apabila dilakukan sebelum terjadi infeksi.

Evaluasi Penyuluhan Pertanian

Evaluasi merupakan suatu komponen sebagai bagian integral dalam sistem instruksional bidang ilmu pertanian. Maka dalam setiap kegiatan diawali dam diakhiri dengan evaluasi. Jadi evaluasi merupakan suatu kegiatan terencana dan sistematis yang meliputi pengamatan untuk proses pengumpulan data dan fakta, pengolahan, penggunaan pedoman yang telah ditetapkan, pembuatan pertimbangan dengan membandingkan hasil pengamatan dengan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan lebih dulu dan pembuatan keputusan serta penilaian tentang tercapainya suatu kegiatan. Selain itu pengertian lain menyebutkan bahwa evaluasi harus obyektif dalam arti evaluasi harus dilakukan berdasarkan data atau fakta bukan berdasarkan pada praduga atau intuisi seseorang.

kegiatan penyuluhan, evaluasi cara menanam padi

Setiap kegiatan yang ingin maju pasti tidak luput dari adanya evaluasi, evaluasi ini dalam kegiatan penyuluhan pertanian berkaitan erat dengan pengembangan kelembagaan pertanian melalui kelompok tani dan gabungan kelompok tani serta tanggapan terhadap berbagai kegiatan dan rencana kegiatan yang akan sedang dan telah berjalan. Evaluasi kinerja sebuah program atau proyek dikemas dalam sebuah pertemuan yang dirancang secara partisipatif, sehingga memungkinkan semua peserta yang hadir akan dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan tersebut. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk evaluasi kinerja sebuah program atau proyek dalam kelompok adalah sebagai berikut:1.       Pemaparan tujuan pertemuan, dimaksudkan agar peserta pertemuan memahami maksud dan tujuan diselenggarakannya pertemuan multi pihak ini adalah untuk melaksanakan evaluasi kinerja terhadap program atau proyek yang telah dilaksanakan.2.      Kilas balik perjalanan program atau proyek yang telah dilakukan oleh para pihak. Tahapan ini dimaksudkan untuk membantu peserta pertemuan untuk mengingat kembali kegiatan dalam program atau proyek yang telah dilaksanakan bersama.3.      Pemaparan prinsip, kriteria dan indikator yang digunakan dalam evaluasi kinerja. Tahapan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang prinsip, kriteria dan indikator yang digunakan untuk penilaian kinerja sebuah program atau proyek.4.      Pemaparan tentang cara penilaian terhadap indikator yang digunakan dalam penilaian kinerja sebuah program atau proyek.5.      Penilaian terhadap kinerja sebuah program atau proyek dengan menggunakan indikator dan cara penilaian yang telah ditentukan dan disepakati bersama.6.      Pemaparan hasil penilaian kinerja dari setiap kelompok, dimaksudkan agar hasil penilaian terhadap kinerja yang dilakukan oleh setiap kelompok dapat diketahui oleh kelompok-kelompok yang lain (Awang, 2008).Masyarakat atau petani diarahkan untuk mampu menilai sendiri dalam hal mengevaluasi, dengan mengungkapkan tentang apa yang mereka tahu dan lihat. Masyarakat diberikan kebebasan untuk menilai sesuai dengan apa yang ada dalam benak mereka, pengalaman, kelebihan atau keuntungan dari program pembangunan, kelemahannya, manfaat, hambatan, faktor pelancar yang mereka hadapi dalam operasionalisasi program dan secara bersama-sama memcarikan alternatif terbaik sebagai bahan pertimbangan bagi pelaksanaan program pembangunan atau kegiatan pembangunan di waktu yang akan datang (Henuk, 2008).Maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan evaluasi sangatlah penting, selain mewujudkan iklim organisasi yang dinamis dan berkembang, evaluasi juga mendorong semangat kompetisi menuju perbaikan di masa yang mendatang. Selain pengertian evaluasi di atas, menurut Mardikanto (1993) secara konseptual, evaluasi dapat diartikan sebagai kegiatan pengukuran dan penilaian, agar dapat dipertanggungjawabkan keterhandalannya, biasanya dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah yaitu :1.      Jelas masalah dan tujuan evaluasiPermasalahan yang akan di bahas dalam evaluasi harus jelas berdasarkan analisa data dan kondisi di lapangan. Misalkan produksi menurun dilihat dari hasil ubinan, evaluasinya adalah mencari penyebab penurunan produksi dari hasil ubinan serta langkah kongkrit yang bisa diambil agar produksinya bisa meningkat.2.      Berdasarkan data bukan opiniEvaluasi dilakukan didasarkan pada data bukan sekedar opini semata, oleh karena itu data dan fakta perlu dikumpulkan terlebih dahulu sebagai bahan yang nanti bisa di bahas pada saat pertemuan evaluasi.3.      Menggunakan metode yang baku, menyangkut :a.       Indikator dan kriteria evaluasib.      Teknik pengumpulan datac.       Instrumen pengumpulan data yang tepat (valid) dan teliti (reliable)d.      Pengukuran dan analisis yang digunakan
Hal yang tidak kalah penting selain mengevaluasi kegiatan kelompok tani dan petani adalah mengevaluasi terlebih dahulu kegiatan penyuluhannya. Evaluasi kegiatan penyuluhan itu sendiri jika di rangkum terdiri dari tiga tahap, yaitu input, proses, dan hasil. Uraiannya sebagai berikut:1.       Evaluasi inputEvaluasi input yang dilakukan adalah mengevaluasi alat bantu, peraga, dan media yang digunakan. Evaluasi alat bantu, alat peraga dan media bertujuan untuk mengetahui fungsi alat-alat tersebut sudah dapat membantu dan mewakili jalannya kegiatan penyuluhan atau belum. Alat bantu apa saja yang digunakan pada saat penyuluhan? Selama proses penyuluhan, alat bantu tersebut sudah dapat digunakan dengan baik dan membantu dalam proses kegiatan penyuluhan tidak?. Setiap gagasan yang muncul dari tiap peserta dapat langsung ditulis alat bantu penyuluhan, sehingga semua gagasan yang sudah terkumpul bisa lebih jelas. Alat peraga apa saja yang digunakan/dimanfaatkan dalam proses penyuluhan? Dalam melakukan evaluasi juga perlu untuk mencari tahu keefektivan dari masing-masing metode penyuluhan dan media-media yang dipergunakan.2.       Evaluasi ProsesEvaluasi tahap kedua yaitu evaluasi proses. Tahap ini penyuluh mengevaluasi apakah selama proses penyuluhan kondisi yang tercipta kondusif atau tidak. Evaluasi proses yang dilakukan adalah mengevaluasi apakah jalannya penyuluhan berjalan lancar atau tidak. Selain mengevaluasi jalannya penyuluhan, penyuluh juga mengevaluasi apakah alat bantu dan peraga dapat berjalan dengan optimal. Peserta penyuluhan harus di dorong untuk dapat berperan lebih dominan dan aktif dalam menyampaikan gagasannya mengenai materi penyuluhan3.      Evaluasi Hasil Evaluasi tahap terakhir adalah evaluasi hasil. Pada tahap ini penyuluh membandingkan hasil yang dicapai setelah diadakan penyuluhan dengan sebelum penyuluhan. Melalui evaluasi hasil, penyuluh dapat mengambil kesimpulan atau keputusan yang akan dilakukan di masa mendatang. Adanya kesepakatan dan kesatuan pendangan merupakan contoh keberhasilan kegiatan penyuluhan.

Daftar Pustaka
Awang, SA., dkk. 2008. Panduan Pemberdayaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan(LMDH).http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/Books/Bawang0801Ina.pdf. diakses tanggal 2 Mei 2009 pukul 12.15 WIBDepartemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Penerbit Pusat Penyuluhan Departemen Kehutanan Republik Indonesia bekerjasama dengan Fakultas Pertanian UNS SurakartaHamalik, Oemar. 1990. Belajar dan Mengajar Ilmu Pertanian : Pendekatan Terpadu. CV. Maju Mundur. BandungHenuk, YL. 2008. Komunikasi Pertanian Dan Partisipasi Masyarakatwww.ntt-academia.org/wps-kom-pertanian-01-2008-pdf. Diakses pada tanggal 1 Mei 2009 pada pukul 12.20 WIB.Mardikanto. T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta

BPP Barade Adakan Worshop Indikatif Penyuluhan Pertanian

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Barade Timur secara resmi membuka kegiatan Workshop Indikatif Tingkat Kecamatan di Balai Penyuluh Pertanian setempat, Selasa (24/12/2019).

Acara tersebut ikut dihadiri oleh perwakilan para petani dalam wilayah kerja penyuluh pertanian dalam Kecamatan Barade Timur dan Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Barade.

Koordinator BPP Kecamatan Barade Timur, Armanisa dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Worshop Indikatif tingkat Kecamatan ini mengajak petani untuk memajukan pertanian di Kabupaten Barade.

“Kita harus memajukan pertanian di Kecamatan Barade Timur maupun di tingkat Kabupaten Barade ini, “tuturnya. Sementara itu,

Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Barade, Juliadin, SP menyampaikan bahwa kegiatan worshop indikatif ini dilakukan guna meningkatkan kinerja petani dalam membangun pertanian yang mandiri.

“mengingat telah terjadi perubahan yang begitu baik akibat pola kerja penyuluh yang bekerja giat dan aktif dalam membangun pertanian yang mandiri, maka dari itu harus kita tingkatkan lagi, “harapnya.

Sedangkan dari pihak perwakilan petani Desa Lugu Kecamatan Barade Timur, Arsyasul menyampaikan terima kasih kepada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang telah menjadi wadah dalam membangun pertanian di Kecamatan Barade Timur agar Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Barade terus memberikan dukungan nya kepada petani.

”Semoga kegiatan yang dilakukan hari ini akan menjadi lompatan dalam perkembangan pertanian kedepannya,” pintanya.

A WordPress.com Website.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started